62% orang kini khawatir tidak bisa membedakan berita asli dari hoaks di internet, sementara hanya 37% yang percaya pada berita yang mereka lihat, angka terendah yang pernah tercatat sejak 2015. Kesenjangan 25 poin antara kekhawatiran dan kepercayaan ini menjadi ketegangan utama dalam data media saat ini. Kekhawatiran naik 4 poin hanya dalam satu tahun, dan kepercayaan terhadap berita yang disampaikan lewat chatbot AI bahkan lebih rendah lagi, yaitu 20%, meski penggunaan mingguan chatbot untuk berita naik dari 7% menjadi 10%. Angka-angka di bawah ini berasal dari Reuters Institute Digital News Report, yang mencakup 48 pasar dengan sekitar 2.000 responden masing-masing.
TL;DR
- 62% khawatir tidak bisa membedakan berita asli dari hoaks (Reuters Institute)
- Itu naik 4 poin persentase dari tahun sebelumnya (Reuters Institute)
- Kepercayaan pada berita secara keseluruhan 37%, terendah sejak 2015 (Reuters Institute)
- Kepercayaan di AS berada di 25% (Reuters Institute)
- Di kalangan warga AS yang condong ke kanan, angkanya 15% (Reuters Institute)
- Kepercayaan pada berita dari chatbot AI ada di 20% (Reuters Institute)
- Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita naik dari 7% menjadi 10% (Reuters Institute)
- Di kalangan usia di bawah 35 tahun, angkanya mencapai 16% (Reuters Institute)
- Hanya 1% menyebut AI sebagai sumber berita utama mereka (Reuters Institute)
- Media sosial dan platform video mencapai 54% untuk berita (Reuters Institute)
- Facebook adalah platform tunggal terbesar untuk berita dengan 43% (Reuters Institute)
- 42% mengaku menghindari berita, tidak berubah dari tahun sebelumnya (Reuters Institute)
- Minat tinggi pada berita turun menjadi 46% dari 59% pada 2021 (Reuters Institute)
- 17% membayar untuk berita online di kelompok 20 negara (Reuters Institute)
1. Kekhawatiran Soal Hoaks Terus Meningkat
Angka kekhawatiran bergerak cukup berarti dalam satu tahun, hal yang tidak biasa untuk ukuran sikap. 62% responden mengaku khawatir tidak bisa membedakan berita asli dari hoaks di internet, naik 4 poin persentase, dengan kekhawatiran tertinggi di Nigeria dan Kenya, diikuti oleh Inggris, Australia, dan Portugal.
Urutan negara ini bertentangan dengan anggapan bahwa ini terutama kecemasan negara demokrasi kaya. Nigeria dan Kenya memimpin, dan keduanya punya pengalaman baru-baru ini dengan manipulasi online yang terkoordinasi seputar pemilu, ditambah tingginya penggunaan media sosial lewat ponsel sebagai akses utama, yang menunjukkan bahwa kekhawatiran ini mengikuti tingkat paparan, bukan literasi media secara abstrak. Kehadiran Inggris, Australia, dan Portugal tepat di belakangnya menunjukkan bahwa kekhawatiran ini tidak terbatas pada satu lingkungan media saja. Kenaikan tahunan sebesar 4 poin pada ukuran yang sudah di atas 60% menunjukkan bahwa masalah ini dipersepsikan semakin memburuk, terlepas dari realitas sebenarnya soal volume misinformasi.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Khawatir soal hoaks | 62% | Reuters Institute |
| Perubahan dari tahun sebelumnya | naik 4 poin | Reuters Institute |
| Perkiraan angka tahun sebelumnya | sekitar 58% | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Kekhawatiran tertinggi | Nigeria dan Kenya | Reuters Institute |
| Berikutnya | Inggris, Australia, Portugal | Reuters Institute |
| Pasar yang dicakup | 48 | Reuters Institute |
| Responden per pasar | sekitar 2.000 | Reuters Institute |
| Perkiraan total sampel | 96.000 | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
Sumber: ringkasan eksekutif Reuters Institute Digital News Report 2026.
2. Kepercayaan Berada di Titik Terendah Sepanjang Masa
Sisi kepercayaan dari persamaan ini lebih buruk dibanding sisi kekhawatiran. Kepercayaan pada berita secara keseluruhan berada di 37%, level terendah yang pernah tercatat sejak 2015, dengan Amerika Serikat di 25% dan warga AS yang condong ke kanan di 15%.
Kesenjangan internal di Amerika Serikat adalah angka paling mencolok dalam kumpulan data ini. Selisih 10 poin antara rata-rata nasional dan satu segmen politik tertentu berarti kepercayaan bukan sekadar rendah, tapi juga terdistribusi secara tidak merata mengikuti garis partisan, yang mengubah bentuk solusi yang mungkin diperlukan. Masalah kredibilitas secara umum bisa saja diatasi lewat jurnalisme yang lebih baik; masalah yang bersifat partisan menandakan bahwa kelompok besar sudah sebagian besar keluar dari ruang informasi bersama dan tidak akan terjangkau oleh perbaikan pada media yang sudah mereka tolak. Dengan angka 15%, kira-kira enam dari tujuh warga AS yang condong ke kanan tidak percaya pada berita yang mereka temui.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Kepercayaan pada berita secara keseluruhan | 37% | Reuters Institute |
| Posisi historis | terendah sejak 2015 | Reuters Institute |
| Kepercayaan di AS | 25% | Reuters Institute |
| Warga AS yang condong ke kanan | 15% | Reuters Institute |
| Selisih antara rata-rata AS dan kelompok condong ke kanan | 10 poin | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Selisih antara rata-rata global dan AS | 12 poin | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Kepercayaan pada chatbot AI untuk berita | 20% | Reuters Institute |
| Selisih antara kekhawatiran dan kepercayaan | 25 poin | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
Konteks soal moderasi ada di statistik moderasi konten kami. Sumber: GIJN tentang Digital News Report 2026.
3. Dari Mana Orang Sebenarnya Mendapatkan Berita
Data saluran distribusi menunjukkan tiga pilar yang kurang lebih setara, bukan keruntuhan media tradisional seperti yang sering digambarkan. Media sosial dan platform video mencapai 54% untuk berita, televisi 52%, dan situs serta aplikasi milik media sendiri 51%.
Angka-angka itu cukup berdekatan sehingga urutan di antaranya kurang penting dibanding fakta bahwa mereka setara. Yang berubah bukanlah satu saluran menggantikan saluran lain, melainkan tidak ada satu pun saluran yang memegang posisi mayoritas, dan audiens kini terbagi ke ketiganya. Di dalam platform media sosial sendiri, konsentrasinya lebih jelas: Facebook tetap yang terbesar sendirian dengan 43%, jauh di atas YouTube dengan 34%, Instagram dengan 26%, dan TikTok dengan 20%. Dominasi Facebook yang terus berlanjut ini patut dicatat karena bertentangan dengan anggapan umum bahwa konsumsi berita telah berpindah ke platform yang lebih baru dan berfokus pada video; kenyataannya, konsumsi itu tersebar di berbagai platform tanpa meninggalkan pemain lama.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Media sosial dan platform video | 54% | Reuters Institute |
| Termasuk chatbot AI | 56% | Reuters Institute |
| Berita di televisi | 52% | Reuters Institute |
| Situs dan aplikasi milik media sendiri | 51% | Reuters Institute |
| Facebook untuk berita | 43% | Reuters Institute |
| YouTube untuk berita | 34% | Reuters Institute |
| Instagram untuk berita | 26% | Reuters Institute |
| TikTok untuk berita | 20% | Reuters Institute |
| Konsumsi video online mingguan | 77% | Reuters Institute |
Konteks soal platform ada di statistik media sosial kami. Sumber: NewscastStudio tentang peluncuran laporan 2026.
4. Chatbot AI Mulai Masuk ke Pola Konsumsi Berita
Angka-angka AI menggambarkan pertumbuhan relatif yang cepat dari basis yang masih kecil, sesuatu yang mudah disajikan ke arah mana pun. Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita naik dari 7% menjadi 10%, mencapai 16% di kalangan usia di bawah 35 tahun, sementara hanya 1% menyebut AI sebagai sumber berita utama mereka.
Kedua sudut pandang ini sama-sama benar, dan untuk saat ini yang kedua lebih penting. Lonjakan dari 7% ke 10% berarti pertumbuhan relatif sekitar 43% dalam satu tahun, dan angka 16% di kalangan usia di bawah 35 tahun menunjukkan di mana pertumbuhan ini terpusat, yang bersama-sama mendukung argumen yang cukup masuk akal bahwa ini bisa menjadi saluran arus utama. Tapi fakta bahwa hanya 1% yang menyebutnya sebagai sumber utama berarti chatbot untuk saat ini bersifat tambahan, bukan pengganti. Angka kepercayaan membuat cerita pertumbuhan ini makin rumit: di angka 20%, kepercayaan pada berita yang disampaikan AI berada 17 poin di bawah kepercayaan pada berita secara umum yang sudah rendah, yang berarti adopsinya melaju lebih cepat dibanding kepercayaannya. Orang menggunakan saluran yang tidak mereka percayai, dan itu bukan kondisi yang stabil.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita | 10% | Reuters Institute |
| Tahun sebelumnya | 7% | Reuters Institute |
| Pertumbuhan relatif | sekitar 43% | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Penggunaan di kalangan usia di bawah 35 tahun | 16% | Reuters Institute |
| AI sebagai sumber berita utama | 1% | Reuters Institute |
| Kepercayaan pada berita dari chatbot AI | 20% | Reuters Institute |
| Kepercayaan pada berita secara keseluruhan | 37% | Reuters Institute |
| Selisih kepercayaan untuk AI | 17 poin di bawah berita secara umum | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
Konteks soal akurasi ada di statistik halusinasi AI kami. Sumber: Reuters Institute tentang AI dan masa depan berita.
5. Kreator Mengambil Porsi yang Besar
Ekonomi kreator telah bergeser dari pinggiran konsumsi berita menjadi porsi yang cukup besar di dalamnya. 46% mendapatkan berita dari kreator dalam bentuk apa pun dan 27% secara khusus dari kreator yang berfokus pada berita, sementara hanya 3% yang bergantung sepenuhnya pada kreator.
Kesenjangan antara 46% dan 3% ini adalah struktur penting di sini. Kreator berhasil meraih jangkauan luas tanpa menggeser apa pun, berfungsi sebagai lapisan tambahan di atas kebiasaan yang sudah ada, bukan sebagai pengganti kebiasaan itu. Meski begitu, fakta bahwa 27% mendapatkan berita dari kreator yang berfokus pada berita menempatkan sosok individu pada posisi yang sebanding dengan platform besar, dan tidak seperti media institusional, mereka tidak memiliki infrastruktur editorial, kebijakan koreksi, atau mekanisme akuntabilitas. Pertanyaan soal akuntabilitas bukan soal apakah kreator kurang akurat dibanding redaksi media, sesuatu yang tidak dibahas oleh data ini, melainkan bahwa seperempat audiens kini menerima berita lewat saluran yang tidak punya mekanisme struktural untuk salah secara publik.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Mendapatkan berita dari kreator, jenis apa pun | 46% | Reuters Institute |
| Dari kreator yang berfokus pada berita | 27% | Reuters Institute |
| Bergantung sepenuhnya pada kreator | 3% | Reuters Institute |
| Rasio antara penggunaan umum dan ketergantungan penuh | sekitar 15 banding 1 | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Perbandingan, kreator berita versus YouTube | 27% berbanding 34% | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Fungsi dalam pola konsumsi berita | tambahan | Diturunkan |
| Infrastruktur editorial | umumnya tidak ada | Diturunkan |
| Pasar yang dicakup | 48 | Reuters Institute |
Sumber: Edelman tentang Digital News Report 2026.
6. Ketidakpedulian Tumbuh Lebih Cepat daripada Penghindaran
Data keterlibatan menunjukkan sesuatu yang lebih lambat dan lebih berdampak dibanding penolakan aktif. 42% mengaku menghindari berita, tidak berubah dari tahun sebelumnya, sementara minat tinggi pada berita turun menjadi 46% dari 59% pada 2021 dan pengguna berita yang santai atau pasif naik dari 16% menjadi 25%.
Penghindaran yang stabil sementara minat turun 13 poin dalam lima tahun menunjukkan bahwa perubahan ini bukan orang menjauh dengan penuh amarah, melainkan perlahan-lahan menjauh. Penghindaran aktif membutuhkan kepedulian yang cukup untuk mengambil keputusan; pertumbuhan justru terjadi pada kategori santai dan pasif, naik sembilan poin, yang menggambarkan orang-orang yang sekadar berhenti mencari berita. Perbedaan ini punya konsekuensi praktis, karena penghindaran merespons perubahan nada dan volume pemberitaan, sementara pergeseran pasif tidak merespons apa pun secara khusus. Data pembayaran memperkuat gambaran ini: 17% membayar untuk berita online di kelompok 20 negara dengan pasar yang lebih makmur, dengan Norwegia di 40% dan Swedia di 32% sebagai pengecualian, bukan indikator tren.
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Penghindaran berita | 42% | Reuters Institute |
| Perubahan dari tahun sebelumnya | tidak berubah | Reuters Institute |
| Sangat tertarik pada berita | 46% | Reuters Institute |
| Angka yang sama pada 2021 | 59% | Reuters Institute |
| Penurunan sejak 2021 | 13 poin | Diturunkan dari angka Reuters Institute |
| Pengguna berita santai atau pasif | 25% | Reuters Institute |
| Angka sebelumnya | 16% | Reuters Institute |
| Membayar untuk berita online, kelompok 20 negara | 17% | Reuters Institute |
| Norwegia | 40% | Reuters Institute |
| Swedia | 32% | Reuters Institute |
Sumber: European Federation of Journalists tentang laporan 2026.
Ringkasan: Misinformasi dan Kepercayaan Media dalam Angka
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Khawatir soal hoaks | 62% | Reuters Institute |
| Perubahan kekhawatiran dari tahun sebelumnya | naik 4 poin | Reuters Institute |
| Kepercayaan pada berita secara keseluruhan | 37% | Reuters Institute |
| Posisi historis angka ini | terendah sejak 2015 | Reuters Institute |
| Kepercayaan di AS | 25% | Reuters Institute |
| Warga AS yang condong ke kanan | 15% | Reuters Institute |
| Kepercayaan pada chatbot AI untuk berita | 20% | Reuters Institute |
| Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita | 10% | Reuters Institute |
| Tahun sebelumnya | 7% | Reuters Institute |
| Penggunaan AI di kalangan usia di bawah 35 tahun | 16% | Reuters Institute |
| AI sebagai sumber berita utama | 1% | Reuters Institute |
| Media sosial dan platform video | 54% | Reuters Institute |
| Berita di televisi | 52% | Reuters Institute |
| Situs dan aplikasi milik sendiri | 51% | Reuters Institute |
| Facebook untuk berita | 43% | Reuters Institute |
| YouTube untuk berita | 34% | Reuters Institute |
| Berita dari kreator, jenis apa pun | 46% | Reuters Institute |
| Penghindaran berita | 42% | Reuters Institute |
| Sangat tertarik pada berita | 46% | Reuters Institute |
| Membayar untuk berita online | 17% | Reuters Institute |
Metodologi dan Sumber
- Semua angka berasal dari Reuters Institute Digital News Report 2026, yang mencakup 48 pasar dengan sekitar 2.000 responden per pasar (ringkasan eksekutif Reuters Institute, Reuters Institute tentang AI dan berita).
- Liputan dan analisis independen atas rilis yang sama telah dicocokkan dengan publikasi aslinya (GIJN, NewscastStudio, Edelman, European Federation of Journalists).
- Catatan tentang data: ini adalah survei online, yang secara sistematis kurang mewakili orang dengan akses internet terbatas dan membuat angka dari pasar berpenghasilan lebih rendah kurang sebanding dengan pasar berkonektivitas tinggi. Semua ukuran ini adalah sikap yang dilaporkan sendiri dan perilaku yang diingat, bukan penggunaan yang diamati langsung, sehingga porsi per platform mencerminkan apa yang orang yakini mereka lakukan. Ukuran kekhawatiran ini menanyakan soal rasa cemas terhadap hoaks, bukan soal paparan terhadapnya, jadi kenaikan kekhawatiran bukan bukti bahwa volume misinformasi meningkat. Angka pembayaran ini mencakup kelompok 20 negara dengan pasar yang lebih makmur, bukan seluruh 48 pasar, dan tidak sebanding dengan ukuran global di sampingnya. Segmentasi politik hanya tersedia untuk sebagian pasar, jadi rincian partisan di AS tidak punya padanan global di sini. Baris yang ditandai sebagai hasil turunan merupakan perhitungan aritmatika atas angka yang telah dipublikasikan.
- Terakhir diperbarui: 2 Agustus 2026. Kami memperbarui rangkuman ini setiap kuartal, dan pembaruan besar berikutnya diperkirakan terjadi saat Reuters Institute menerbitkan Digital News Report tahunan berikutnya.